KOMUNITAS WETAR PEDULI

Bersatu Membangun Negeri

Strategi Mendorong Kawasan Potensi Wisata Desa Arwala

 

Kawasan potensi wisata desa Arwala, Wetar Timur

 

Pengantar

Desa Arwala yang terletak di Kecamatan Wetar Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan. Peraturan daerah sebagaimana disebutkan Dalam Rencana Tataruang Wilayah (RTW) Provinsi Maluku 2033 dan RTW Kabupaten Maluku Barat Daya pada 2031, menyebutkan salah satu sektor yang akan dihadirkan adalah kawasan pariwisata. Sektor ini perlu didorong agar antara harapan dan tindakan dapat berjalan beriringan. Bagaimana harapan itu dapat terwujud sementara kebanyakan kita tidak memahami dampak dari sektor ini atau bagaimana mewujudkannya.

Komunitas Wetar Peduli (Kontarli) sebagai kumpulan orang-orang yang punya perhatian serius dengan tanggung jawab moril terhadap proses pembangunan yang berkelanjutan di Pulau Wetar memandang perlu untuk turut serta menggelorakan semangat pembangunan dengan bergotong royong membangun Wetar. Karena itulah, Kontarli ingin bersua-muka menyatukan dan mendorong harapan masyarakat untuk menghadirkan sektor pariwisata di Desa Arwala melalui kebijakan dan keputusan dari desa sendiri. Inilah strategi menghadirkan pariwisata dengan pendekatan Community-Based Tourism (Pariwisata Berbasis Masyarakat). Dalam definisi yang umum, pendekatan CBT dimaknai sebagai pendekatan yang solutif menghadirkan pairiwsata dari dan oleh masyarakat. Implikasinya ada pada masyarakat; direncanakan oleh masyarakat, dikelola dan dievaluasi oleh masyarakat sendiri; pemerintah (akan) hadir sebagai fasilitator.

Lalu, bagaimana menghadirkannya? Kontarli menyadari bahwa minimnya infrastruktur pendukung menjadikan harapan ini belum dapat terwujud dalam waktu dekat. Paling tidak, kehadiran Kontarli ini tidak lain sebagai bentuk dukungan untuk bersama-sama mempersiapkan dan mewujudkan bagian mana dan bagaimana mewujudkan nilai jualnya kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Kontarli menawarkan beberapa konsep dan identifikasi awal mewujudkan harapan kawasan wisata budaya dan wisata khusus di Desa Arwala. Konsep-konsep ini diharapkan menjadi gambaran dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menjawab harapan di atas, diantaranya (1) kawasan dan daya tarik wisata, (2) dampak pariwisata, (3) desa wisata dan wisata desa, (4) langkah-langkah menghadirkan pariwisata di desa, (5) kajian singkat potensi wisata di Desa Arwala. Berikut adalah paparan singkat dari konsep-konsep terajukan.

 Kawasan dan Daya Tarik Wisata

Kawasan wisata adalah wilayah yang memiliki fungsi utama sebagai wilayah lindung atau budi daya. Pandangan lain menjelaskan bahwa kawasan wisata merupakan kawasan yang mempunyai luas tertentu yang sengaja dibangun untuk kegiatan pariwisata. Substansi dari definisi kawasan wisata ialah kesengajaan menghadirkan wisata di suatu area tertentu yang bertujuan sebagai wilayah lindung atau budi daya. Apa yang harus dilindungi atau apa yang harus dibudidayakan tidak lain ialah daya tarik wisata.

Daya tarik wisata ialah sifat yang dimiliki oleh suatu objek berupa keunikan, keaslian, kelangkaan yang berbeda dengan wilayah lainnya. Daya tarik ini dapat berupa daya tarik wisata alam, daya tarik wisata sosial-budaya, dan daya tarik wisata minat khusus.

Daya tarik wisata alam ialah sumber daya alam yang berpotensi menarik pengunjung, baik dalam keadaan alami maupun secara budi daya. Misalnya, flora dan fauna, gejala alam seperti kawah, sumber air panas, air terjun, danau, keunikan ekosistem seperti pantai, dan lain-lain termasuk persawahan dan perkebunan.

Daya tarik wisata sosial budaya berpotensi menarik pengunjung untuk mengetahui seni budaya, tradisi suatu kelompok masyarakat, peninggalan sejarah, museum, dan lain-lain.

Daya tarik wisata minat khusus hanya dapat dikunjungi oleh wisatawan dengan minat khusus, seperti panjat tebing, wisata bawah laut, dan lain-lain.

Sejatinya masyarakat juga perlu menyadari bahwa daya tarik itu tersedia di wilayah dan area sekitar tempat masyarakat bermukim. Daya tarik ini perlu didorong menjadi kawasan wisata yang menyuguhkan dan menghidupkan sektor lainnya pada masyarakat.

 Dampak Pariwisata

Dampak pariwisata boleh dikata lebih banyak positifnya daripada dampak negatif. Beberapa daerah mengandalkan sektor pariwisata sebagai pendapatan utama. Secara nasional, pada 2009 sektor pariwisata menempati urutan ketiga  dalam hal penerimaan devisa sesudah komoditi minyak dan gas bumi. Dalam konteks ini, skop pariwisata dilokuskan pada skala kecil sehingga ulasan diarahkan berkaitan dengan dampak pariwisata dalam desa (=wisata desa/ desa wisata).

Dampak Positif

  • Adanya konservasi lingkungan dan ekosistem pendukung
  • Terawatnya benda-benda bersejarah
  • Mendorong peningkatan ekonomi masyarakat
  • Membuka lapangan pekerjaan
  • Berlangsungnya kelestarian budaya

 Dampak Negatif

  • Polusi udara dan suara
  • Banyaknya sampah sulit terurai
  • Kejahatan sosial
  • Ketahanan budaya

Desa Wisata dan Wisata Desa

Di luar sana banyak perbincangan mengenai istilah dari objek kegiatan yang membentuk sebuah nama, seperti desa wisata dan wisata desa.

Wisata desa adalah kawasan perdesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian desa, baik dari sosial ekonomi, budaya dan berbagai potensi unik desa yang dikembangkan menjadi komponen wisata. Desa wisata bermakna sebagai kegiatan wisata yang dilakukan pada objek wisata desa. Dengan pengertian ini, desa wisata adalah objeknya, wisata desa adalah kegiatannya.

Dari gambaran perbedaan mendasarnya, diketahui bahwa mewujudkan wisata desa bukanlah sesuatu yang mudah, sebaliknya mewujudkan desa wisata dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri. Begitulah yang dapat dilakukan di Desa Arwala.

Syarat Desa Wisata

Guna menghadirkan desa wisata, ada beberapa syarat yang perlu terpenuhi. Syarat-syarat dimaksud, di antaranya:

  • Aksebilitasnya baik sehingga mudah dikunjungi wisatawan dengan menggunakan berbagai jenis alat transportasi
  • Memiliki objek-objek menarik berupa alam, seni budaya, legenda, makanan lokal, dan sebagainya untuk dikembangkan menjadi objek wisata
  • Keterlibatan masyarakat dan aparat desa menerima dan mendukung program desa wisata serta terbuka terhadap wisatawan yang berkunjung.
  • Keamanan di desa terjamin
  • Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai
  • Berhubungan dengan objek wisata lain yang dikenal luas

Langkah-langkah Menghadirkan Pariwisata di Desa

Langkah-langkah menghadirkan pariwisata di desa dimulai dari (1) Identifikasi, (2) studi banding, (3) Kajian dampak pariwisata, (4) membuat regulasi.

Langkah petama ialah dengan melakukan identifikasi potensi wisata ata daya tarik wisata. Bagian ini cukup penting karena pengunjung (wisatawan) akan berkunjung berdasarkan daya tarik yang ada. Kesalahan mengidentifikasi daya tarik untuk dikelola menjadi sebuah potensi di suatu kawasan tidak dapat menghasilkan apa-apa.

Setelah melakukan identifikasi, langkah kedua boleh dilakukan, yaitu dengan mendatangi desa yang dikembangkan berdasarkan daya tarik sejenis.

Langkah ketiga ialah melakukan kajian dampak pariwisata. Dampak pariwisata ini dipertimbangkan berdasarkan perkembangan sosio-ekonomi dan budaya, dampak lingkungan, dan seterusnya.

Langkah keempat ialah pemantapan regulasi terkait kawasan wisata. Pembuatan regulasi harus melibatkan seluruh komponen masyarakat agar tidak ada yang dirugikan. Regulasi ini berkaitan dengan status lahan, masalah konservasi, dan lain-lain, termasuk dengan pengurusan perizinan dari pemerintah.

 

Kajian Singkat Potensi Wisata dan Strategi Menghadirkan Pariwisata di Desa Arwala

Bagian ini berisi sedikit ulasan potensi wisata di Desa Arwala dan pola perwujudannya. Ulasan ini dibangun dengan teknik refleksional terhadap eviden lapangan yang akan menjadi sasaran perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

Kontarli melihat ada potensi wisata di salah satu kawasan yang bernama Fafi Mate. Kawasan ini memiliki potensi yang bisa dikembangkan karena adanya legenda tokoh Kai Amang yang didukung dengan evidensi yang masih dapat ditemui. Potensi apakah yang memicu daya tarik wisata (tourist attraction) di kawasan berdasarkan legenda dimaksud? Berikut adalah identifikasi daya tarik wisata menurut sudut pandang Kontarli.

Baca juga: Kawasan potensi wisata di Desa Arwala

  • Batu terapung Fatu loi

Batu terapung yang disebut sebagai Fatu loi merupakan perahu dalam Legenda Kai Amang. Batu terapung ini letaknya di laut dan bisa didatangi secara langsung bila terjadi pasang surut. Sementara pada saat pasang naik, batu apung ini hanya bisa dijangkau dengan perahu kecil tanpa mesin. Jarak antara daratan dan batu apung kurang lebih 30 meter. Kedalaman daratan yang tersambung ke Fatu loi pada saat pasang naik sekitar 1,5 meter, sementara kedalaman dari Fatu loi ke bagian laut sudah lebih dari 3 meter.

Pada musim barat antara Desember sampai dengan Maret, Fatu loi ini tidak dapat dikunjungi dengan perahu kecil karena besarnya gelombang laut.

  • Eviden legenda Kai Amang yang sudah memfosil

Bagian timur kawasan ini terdapat 2 benda peninggalan Kai Amang yang telah membatu, yakni alat musik tambur dan burung elang. Kedua benda peninggalan ini dapat dilihat lebih dekat bilamana terjadi pasang surut. Letaknya berada tepat dalam tanjung sehingga akses ke tempat ini hanya bisa dengan perahu kecil. Seperti halnya akses ke Fatu loi, pada musim barat kedua eviden ini hanya dapat dilihat dari kejauhan.

  • Makam tokoh-tokoh dalam legenda Kai Amang

Di bagian barat kawasan Fafimate, terdapat bukit yang tidak lain adalah makam dari isteri Kai Amang dan Saudara perempuan Kai Amang. Dalam legenda, masing-masing mereka bernama Pi Tiga dan Pi Pui.

Baca juga: Legenda Kai Amang

  • Hamparan pasir putih

Hamparan pasir putih ini memiliki keunikan karena selain halus juga dipenuhi jutaan “kumang” kecil yang memanjakan mata.

  • Laut bergelombang pada musim tertentu

Pada musim barat, antara bulan Desember sampai dengan Maret, kawasan ini disuguhi geburan gelombang laut. Gelombang laut ini mulau bergulung dari jarak 50 meter dari pesisir pantai.

  • Bukit tertinggi di wilayah desa

Dari kejauhan, yang tampak terlebih dahulu dari desa Arwala ialah bukit Fafimate. Karena bukit ini cukup tinggi, sebuah menara suar tertancap mantap di atasnya. Setiap orang yang berada di atas bukit ini, akan disuguhi banyak panorama, seperti matahari terbit, matahari terbenam, dataran lain di sekitarnya, lautan lepas, dan lain-lain.

  • Tempat berlangsungnya perkembangbiakan penyu

Pada musim barat juga, kawasan ini menjadi tempat bertelur para penyu. Lebih dominan penyu yang bertelur di kawasan fafimate adalah penyu sisik.

Daya Dukung (carrying capacity)

Daya dukung yang dimaksud ada daya dukung lingkungan, daya dukung sosial dan daya dukung ekonomi. Daya dukung lingkungan secara potensial sebelum dan setelah melakukan kegiatan di sini konstan masih sama dalam hal pemberian penghidupan bagi makhluk hidup lainnya. Selain itu, kawasan yang masih alamiahh (natural) sehingga tidak banyak memperlihatkan sampah-sampah rumah tangga atau sampah produksi. Disayangkan dari sisi infrastruktur, akomodasi, sarana-prasarana pendukung di lingkungan sekitar belum terlalu menggembirakan. Padahal dari kegiatan wisata dapat berdampak bagi lingkungan, utamanya ialah terciptanya kondisi lingkungan yang bersahabat bagi ekosistem lainnya.

Daya dukung sosial memang belum begitu menggembirakan. Dapat diakui karena masyarakat masih terpolarisasi dengan pembangunan yang sifatnya sentralistik. Masyarakat selalu menunggu kebijakan yang sifatnya top-down. Padahal, era ini membutuhkan pengelolaan anggaran dari masyarakat itu sendiri dengan sumber daya biaya yang telah diberikan negara. Kendati demikian, Kontarli siap mendorong agar sektor pariwisata dapat dihidupkan untuk penghidupan yang lebih baik.

Daya dukung ekonomi sebagai tantangan keberlanjutan kegiatan. Minimnya aktivitas perdagangan dan jasa menjadi tantangan kelangsungan pariwisata.

Berikut adalah analisis SWOT terhadap potensi wisata yang ada.

SWOT pengembangan desa wisata

Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan maka diperoleh 9 (sembilan) strategi pengembangan kawasan menuju kawasan wisata khusus. Berikut uraian dari kesembilan strategi dimaksud.

Pelibatan masyarakat dalam perwujudan desa wisata mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Partisipasi pembuatan keputusan

Pemerintah hadir sebagai fasilitator bersama masyarakat sebagai pengambil keputusan untuk perwujudan kawasan wisata khusus.

Partisipasi pelaksanaan dan evaluasi

Diperlukan fasilitas penginapan yang disediakan masyarakat/pemerintah desa (bergantung pada keputusan dan rencana pembangunan jangka panjang desa.

Masyarakat ikut berpartisipasi dalam penjualan souvenir, makanan dan minuman bagi pengunjung serta menjadi pemandu wisata

Pelaksanaan evaluasi kembali lagi antara pemerintah dan masyarakat.

Pengembangan program desa wisata yang khas sesuai potensi alam

Strategi pengembangan ini berkaitan dengan hasil identifikasi daya tarik wisata. Secara konkret ditampilkan dalam bagan berikut.

Skema strategi pengembangan desa wisata

Identifikasi daya tarik di atas dapat dikelola menjadi paketan wisata. Paketan wisata itu dimaksudkan sebagai bentuk yang terintegrasi. Skema di atas memperlihatkan dengan jelas bahwa untuk mewujudkan desa wisata berbasis Community-Base Tourism diperlukan kerja sama antar pemerintah, lembaga pendidikan, pihak swasta, dan lembaga desa serta komunitas yang peduli terhadap dunia wisata berbasis CBT. Kerja sama ini dimaksudkan untuk mendorong daya tarik wisata yang sudah teridentifikasi dan potensi lain yang berkaitan agar menjadi kawasan wisata budaya ataupun wisata khusus. Selanjutnya, dapat digambarkan jarak dan waktu tempuh dari Desa Arwala menuju kawasan wisata, dan pemetaan secara terstruktur dan sistematis spot yang dapat dikunjungi secara bersamaan sehingga tidak terlewatkan.

Pembentukan lembaga untuk perwujudan dan pengelolaan desa wisata

Kawasan wisata desa Arwala perlu dikembangkan dengan pendekatan Community-Based Tourism (CBT). Pendekatan ini lebih menekankan pada sektor wisata yang dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat. Dengan demikian diperlukan lembaga khusus yang dibentuk pemerintah desa untuk perwujudan dan pengembangan wisata di desa.

Strategi pembentukan lembaga ini bertujuan membuat perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Perencanaan berupa pemanfaatan lahan, pemanfaatan anggaran dan sumber daya. Pelaksanaan kegiatan berupa implementasi dari hasil perencanaan dan promosi kawasan, yang selanjutnya diikuti dengan evaluasi kegiatan untuk efektivitas dan efisiensi timbal-balik antara penganggaran dan pendapatan.

Membangun koordinasi antara pemerintah dan masyarakat dengan peningkatan kapasitas lembaga desa

Strategi ini dimaksudkan agar antara inisiator dan pemerintah memiliki tujuan yang sama dalam perhitungan penyediaan infrastruktur penunjang serta pelatihan bagi aparat lembaga desa.

Pendampingan terhadap masyarakat

Strategi pendampingan ini dimaksudkan pada pendampingan proses pelaksanaan kegiatan kepariwisataan sehingga dapat berbentuk pendampingan juga berbentuk pembinaan. Demikian pendampingan ini butuh keseriusan pemerintah daerah/dinas pariwisata untuk ada bersama masyarakat yang dibentuk dalam lembaga desa sehingga diharapkan lembaga desa dapat mandiri.

Peningkatan kemampuan SDM

Strategi ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan. Pemerintah dan komunitas dapat hadir dalam strategi ini.  Kegiatan pelatihan dapat berupa (a) program pelatihan pengelolaan desa wisata, (b) pelayanan prima usaha pariwisata, (c) konservasi pesisir dan satwa lindung, dan (d) pemeliharaan ketenteraman, ketertiban, kebersihan dalam bermasyarakat.

Pelaksanaan penyuluhan pentingnya pariwisata bagi upaya pembangunan ekonomi masyarakat

Strategi ini dimaksudkan untuk pengarahan dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan wisata tentang dampak pariwisata serta upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung kegiatan pariwisata. Dampak dari penyuluhan atau sosialisasi yang dilakukan dapat membentuk perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih bertanggung jawab menjaga kelangsungan kegiatan pariwisata.

Pelaksanaan promosi kawasan wisata

Strategi ini harus dilakukan secara intensif tersistematis dan berkelanjutan. Tersistematis dimaksudkan agar promosi dapat dilakukan oleh lembaga desa dan komunitas dengan memperkenalakan legendanya terlebih dahulu dan diikuti paket lainnya yang kemudian disebarluaskan melalui (a) media cetak, (b) media elektronik, (c) media internet, dan (d) media lainnya, seperti memperkenalkannya dalam forum-forum tertentu.

Konservarsi hutan, pesisir dan satwa langka

Strategi ini perlu dilakukan untuk menjaga ekosistem dan kelangsungan hidup habitat lainnya melalui pembuatan regulasi dari desa. Regulasi yang dibuat pun harus mencerminkan budaya setempat.

Strategi Komponen Utama

Garis besar dari rencana pelaksanaan kegiatan dibuat dalam strategi komponen utama untuk mewujudkan wisata budaya di desa. Tabel berikut berisi ikhtiar pembuatan rencana strategi dimaksud.

  Rencana Strategi
Daya Tarik Wisata · Pembangunan dan pengembangan konsep desa wisata

· Konsep pengembangan desa wisata berbasis pada potensi alam

· Mengangkat dan memperkenalkan potensi alam dan legenda-legenda kepada khalayak

· Memasukan legenda-legenda yang menjadi daya tarik ke dalam pembelajaran di sekolah

Dukungan SDM · Pendidikan dan pelatihan tentang desa wisata kepada masyarakat yang berada dekat dengan objek wisata
Motivasi Masyarakat · Memasukan program pembangunan desa wisata ke dalam rencana kegiatan pemerintah desa.

· Membentuk lembaga desa wisata

· Melakukan pendinginan area sebagaimana tradisi setempat

· Turut serta memperkenalkan potensi-potensi wisata

Sarana & Prasarana ·  Memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan menuju objek wisata

·  Menyiapkan akses tambahan di kawasan wisata

Fasilitas Pendukung ·  Membuat sign dan map kawasan wisata, dan sejenisnya

·  Membangun akomodasi penginapan

Konservasi · Melakukan penghijauan

· Perlindungan satwa langka

Ketersediaan Lahan dan Area · Membuat perencanaan pemanfaatan ruang

Secara potensi, Desa Arwala memiliki tourism attraction namun perlu dukungan semua pihak, terutama masyarakat untuk bekerja sama. Dukungan masyarakat bisa hadir manakala masyarakat memiliki pemahaman yang memadai tentang asas manfaat dari kegiatan pariwisata. Oleh karena itu, masyarakat perlu dipersiapkan sebelum menghadirkan dan melaksanakan desa wisata. Di sinilah komitmen masyarakat ditagih sehingga diperlukan program pembangunan desa wisata yang masuk dalam rencana kerja pemerintah desa. Dengan begitu, masyarakat dilibatkan sebagai lembaga yang khusus melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi wisata desa. Selain itu, masyarakat juga perlu mengatasi gangguan-gangguan atau ancaman-ancaman yang datang dari luar, baik ancaman psikis maupun fisik. Begitulah yang nantinya dirumuskan hingga pembuatan kejelasan status lahan.

Rencana Pelaksanaan (Action Plan)

Rencana pelaksanaan dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai gambaran perwujudan jika seluruh komponen dapat bekerja sama menghadirkannya. Selebihnya dapat dibuatkan target waktu. Kontarli menawarkan jangka waktu seperti tersebutkan diuraikan dalam tabel berikut ini.

Rencana pelaksanaan kegiatan

Action plan di atas secara eksplisit memberi ruang untuk menghadirkan Kawasan Wisata Budaya yang dapat diwujudkan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Kontarli memperlihatkan komitmennya untuk selalu hadir dalam setiap kegiatan. Begitulah Kontarli memandang perlu untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan yang berkelanjutan.

Action plan ini pula menjadi gambaran untuk memulai melakukan sesuatu sejak dini. Dari sini pula diperlukan kerja sama antar komponen, terutama dari masyarakat yang harus melakukan perubahan, dan pemerintah sebagai fasilitator.

Simpulan dan Rekomendasi

Desa Arwala memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan ekonomi dan kelangsungan hidup satwa langka. Saat ini yang diperlukan ialah komitmen membangun dari semua pihak termasuk pemerintah untuk ikut serta mendorong masyarakat agar potensi yang ada dapat dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Kontarli akan selalu hadir untuk misi pembangunan ini.

Berdasarkan ulasan ini, maka Kontarli merekomendasikan bagi masyarakat untuk melakukan hal-hal berikut:

  1. Membangun komitmen dan koordinasi antar masyarakat dan pemerintah
  2. Membentuk lembaga desa wisata
  3. Perlu pelatihan pembinaan dari instansi berwenang berdasarkan usulan dari masyarakat
  4. Lakukan promosi yang dimulai dari memperkenalkan legenda Kai Amang dan yang berkaitan kepada khalayak
  5. Kerja sama pemerintah desa dengan instansi pendidikan untuk memasukan legenda-legenda dari Desa Arwala ke dalam materi pembelajaran bahasa Indonesia.
  6. Mulai dini, masyarakat harus sadar untuk menjaga kelestarian hutan, pesisir dan tetap menjaga kelangsungan hidup satwa langka
  7. Menghargai perbedaan, memupuk persaudaraan untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam bermasyarakat.

Referensi

A’inum, F, dkk. tt. “Pengembangan Wisata Melalui Konsep Community Based Toursim”. Prosiding Hal. 341—346.

Andjani, E., dkk. 2017. “Pengembangan otensi Desa Wisata melalui Analisa SWOT di Kecamatan Kalitudu Bojonegoro.” disampaikan pada SENASPRO 17—18 Oktober.

Perda Maluku Nomor 16 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Maluku 2013—2033.

Perda Maluku Barat Daya Nomor 1 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya 2013—2031.

Syafi’I & Djoko, 2015. “Perencanaan Desa Wisata dengan Pendekatan Konsep Community Based Toursim di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak” dalam RUANG Vol. 1, Nomor 2. Hal. 51—60.  Semarang: Undip.

Suarka, FM., 2011. “Identifikasi Potensi dan Program Pengembangan Ekowisata di Desa Thingan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.” dalam ECOTROPHIC Vol. 6, No. 2. Hal. 121—127. Denpasar: Udayana.

Incoming search terms:

Silakan ikuti kami melalui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Jika informasi ini bermanfaat, silakan dibagikan

Chat dengan kami?