KOMUNITAS WETAR PEDULI

Bersatu Membangun Negeri

Masalah Utama dari Penderitaan Nabas

 

Barnabas Kurmasela, remaja malang berusia 18 tahun yang sedang dilanda penyakit masih terbaring lesu di tempat tidurnya. Sampai saat ini, status penyakit yang ia derita belum diketahui. Pasalnya belum dilakukan pemeriksaan lab dan rontgen sehingga penanganan terhadapnya serba alamiah.

Nabas–begitulah nama sapaan Barnabas–telah memikirkan kelanjutan jika ia dirawat ke Rumah Sakit. Biaya pengobatan dan perawatan adalah impak yang nanti ditanggung oleh keluarganya. Karena itu, tak ada jalan lain selain melakukan pengobatan dengan cara-cara tradisional. Lagi pula keluarga selalu mengaitkan penyakit yang diderita dengan hal-hal mistik.

Baca juga: Bantu Nabas Berobat ke RS

Kontarli melihat ada dua masalah utama dari peristiwa ini. Pertama adalah masalah sosial-budaya. Perspektif sosial budaya ini berkaitan dengan pandangan umum masyarakat terhadap sebuah peristiwa sosial. Masyarakat, terutama masyarakat tradisional secara warisan memiliki pengetahuan yang diturunkan secara tradisi dari generasi sebelumnya dengan tidak mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya terjadi. Ini dikenal sebagai diffuseness atau kekaburan dalam menyampaikan sesuatu. Pola kehidupan mereka cenderung tidak ada pergerakan ke arah yang lebih maju. Meskipiun ada, pergerakan tersebut akan berjalan sangat lambat. Hal ini disebabkab karena sifat masyarakat tradisional yang tertutup dan mobilitas rendah. Pada akhirnya, segala sesuatu selalu dikaitkan dengan konsep mitologi yang pembuktiannya sulit dilakukan. Pada konteks ini Kontarli tidak sedang menyatakan diri sebagai orang-orang modern, tetapi cara pandang terhadap suatu peristiwa setidaknya harus dilihat dari sisi emosional dan rasional. Peristiwa sebagaimana yang dialami Nabas bagi keluarga dan masyarakat setempat dianggap sebagai pukulan dari makhluk halus. Dengan kata lain, kepercayaan terhadap hal-hal mistik selalu dikaitkan terhadap peristiwa malang yang menimpa seseorang. Apa yang dialami Nabas saat ini merupakan korban terhadap peradaban komunitas (masyarakat). Dengan begitu, harusnya diakui bahwa masyarakat sekitar masih minim pengetahuan terhadap kesehatan.

Kedua adalah sosial-ekonomi. Dengan pola kehidupan yang tidak menyampaikan sesuatu secara terbuka ikut menjadi sumbangsih terhadap keterpurukan Nabas sendiri. Kemiskinan adalah masalah umum yang tidak dipungkiri. Dengan hanya berharap kepada pendapatan seorang Ibu yang hanya bermodalkan penjualan sayur, tentu tak banyak membantu. Apalagi minimnya pengetahuan akan aktivitas di rumah sakit, termasuk pembiayaan yang nanti ditanggung seolah menjadi beban bagi keluarga. Karena itulah, ada semacam penghindaran untuk pengobatan dan perawatan ke rumah sakit atau perawatan secara modern yang disimpul dengan kepercayaan terhadap hal-hal mistik.
Begitulah dua masalah utama yang menurut Kontarli perlu menjadi perhatian semua pihak kedepan. Oleh karena itu, yang harus dilakukan oleh semua orang adalah berpikir untuk (1) memasyarakatkan pola hidup sehat dan penanganan kesehatan di lingkungan masyarakat sekitar; (2) menjadi pelaku hidup sehat bagi orang-orang di sekitar; dan (3) tidak bersifat induvidualistik di tengah kehidupan bermasyarakat.

Semoga kedepan ada yang memiliki perhatian terhadap apa yang menjadi masalah utama ini agar tidak lagi ada Nabas lain yang menjadi korban peradaban zaman.

Silakan ikuti kami melalui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Jika informasi ini bermanfaat, silakan dibagikan

Chat dengan kami?