KOMUNITAS WETAR PEDULI

Bersatu Membangun Negeri

Kontarli Lakukan “GERLIA”

(Kedua instruktur  Kontarli -berbaju hitam dan berhijab- foto bersama rombongan belajar di SD Lurang)

Ketika mendengar kata Gerlia yang memiliki kemiripan bunyi dengan gerilya, ingatan kita akan kembali pada sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah. Ya, kata gerilya yang secara etimologis berasal dari bahasa Spayol dari bentuk guerrilla ini secara harafiah bermakna ‘perang kecil’, yakni perang yang dilakukan secara sembunyi-sembuyi (tertutup) oleh kelompok kecil namun terfokus dan efektif.

Komunitas Wetar Peduli (Kontarli) menggunakan kata Gerlia dalam menjalankan program komunitas di bidang pendidikan dengan semangat “perang kecil”. Bentuk gerlia merupakan akronim dari Gerakan Literasi Alam yang dicanangkan oleh Kontarli. Program ini akan diikuti dengan beberapa kegiatan, seperti belajar-mengajar, sosialisasi, pelatihan, dan evaluasi dalam bentuk lomba-lomba. Keseluruhan kegiatan bertemakan alam dan lingkungan.

Sekadar untuk diketahui pembaca bahwa di Wetar tempat yang mana menjadi pusat aktivitas Kontarli, ada pertambangan tembaga yang sedang berlangsung. Tambang ini diklaim sebagai tambang pertama di Indonesia yang menghasilkan tembaga siap jual. Artinya, tidak ada lagi proses pemurnian melalui smelter di luar Wetar selain lempengan tembaga yang siap dijual keluar.

Karena itu, Kontarli melihat Sumber Daya Manusia terutama di daerah lingkar tambang, seperti di Desa Lurang dan Desa Uhak, Kecamatan Wetar Utara, sejatinya dapat ditingkatkan kompetensi soft skill dari tingkat pradasar khususnya yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dunia kerja di area pertambangan itu sendiri tanpa mengabaikan pengetahuan dasar berkenaan dengan alam dan lingkungan. Sayangnya, ikhtiar itu belum atau tidak ada yang melakukannya. Tidak hanya itu, kekosongan guru mata pelajaran Fisika yang adalah mata pelajaran penunjang sains yang harus diajarkan pun belum tersedia tenaga pengajarnya. Alhasil, di tingkat menengah dasar belum diajarkan muatan pelajaran fisika.

Dengan melihat kekosongan itu, pada akhir September 2019 lalu, Kontarli melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan Unit Pelaksana Teknis Daerah Bidang Pendidikan di Kecamatan Wetar Utara untuk membuat program Peningkatan Kecakapan Berhitung dan Berbahasa Inggris. Guna mengisi kekosongan dan menjalankan kegiatan sebagaimana dimaksud, Kontarli menyiapkan 4 orang tenaga sosialis untuk membantu sebagai instruktur Bahasa Inggris, Matematika dan Fisika. Bahasa Inggris diajarkan oleh Melida Andrea Boeky dari Kupang, atau yang akrab disapa Kaka Dea; sementara Matematika akan diajarkan oleh Lutfiyah Dea Gita, atau yang akrab disapa Kaka Upi dari Cirebon; sementara untuk pelajaran fisika akan diajarkan oleh Ira Ariyani atau kaka Ira dari Surabaya, dan Kemi Kharisma atau kaka Kemi dari Jakarta. Disadari keempat orang ini tidak berlatarbelakang pendidikan namun karena keprihatinan mereka terhadap kondisi yang ada, mereka siap untuk membantu sejauh apa yang bisa dibantu.

(Ketua Kontarli, Fredy Frits Maunareng sedang memperkenalkan kepada siswa kedua tenaga sosialis yang akan menjalankan kegiatan belajar-mengajar, Sabtu 2 November 2019)

Koordinasi masih dibangun dengan pihak sekolah untuk kesiapan ruang, waktu, termasuk dengan berbagai perangkat pembelajaran yang digunakan pihak sekolah. Dan apakah program ini menyita anggaran dari pihak lain? Sama sekali tidak. Bahkan tenaga-tenaga sosialis yang dipersiapkan pun telah menyiapkan perangkat pembelajaran keras secara sendiri-sendiri sehingga bisa digunakan sesuai kebutuhan demo materi ajar. Seluruh konsep kegiatan Kontarli dibangun dengan bentuk yang saling menguntungkan. Menguntungkan seperti apa? Program Kontarli berjalan saja itu sudah menguntungkan Kontarli dari kegelisahan hati, termasuk kegelisahan hati para sosialis melihat kondisi di sekitarnya. Penerima program pun terbantu sesuai dengan kebutuhan. Inilah maksud saling menguntungkan itu, dan sama sekali tidak ada pengutamaan keuntungan dari sisi materi.

Dalam kegiatan ini, orientasi Kontarli dititikberatkan pada proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan-pendekatan kontemporer. Aspek kurikulum 2013 tidak menjadi perhatian khusus. Langkah-langkah pembelajaran akan didesain sesuai dengan konteks kebutuhan rombongan belajar. Tentu sejalan dengan apa yang diharapkan Mendikbud, mas Nadiem, dalam naskah pidatonya pada perayaan hari guru 2019 bahwa ada keinginan guru untuk membantu muridnya yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu habis mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Kondisi semacam ini akan kami lakukan sambil menggali potensi rombongan belajar dan memberikan rekomendasi kepada pihak sekolah atau pihak-pihak yang membutuhkan.

Semoga kehadiran Kontarli bisa menambah semangat belajar dari peserta didik yang ada.

Silakan ikuti kami melalui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Jika informasi ini bermanfaat, silakan dibagikan

Chat dengan kami?