KOMUNITAS WETAR PEDULI

Bersatu Membangun Negeri

Fatu Loi, Legenda Tersembunyi di Wetar

 

Fatu Loi, legenda dari Desa Arwala, Wetar Timur

 

Indonesia memiliki 17.504 pulau[1] dengan 1.340 suku bangsa[2] dan 652 bahasa[3]. Angka-angka yang menggambarkan begitu kaya akan bangsa ini dengan harmoni kehidupan di dalamnya. Mitos (mite), legenda (legend), cerita rakyat (telling story) adalah eviden yang lumrah ditemukan dalam “Negara Bangsa” ini. Sayangnya, kekayaan itu belum semuanya tereksplor.

Pada kesempatan ini, Kontarli perkenalkan sebuah legenda dari Pulau Wetar-Maluku Barat Daya dengan judul Fatu Loi. Menilik Fatu Loi di Wetar, kita akan diarahkan pada beberapa lokasi. Sepengetahuan kami, ada dua lokasi di Wetar yang memiliki penyebutan nama legenda yang mirip, yaitu satunya berlokasi di Desa Arwala, Kecamatan Wetar Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya, dan lainnya berlokasi di Lirang, Kecamatan Wetar Barat, Kabupaten Maluku Barat Daya. Lokasi yang pertama dinamakan Fatu Loi, yang kedua dinamakan Hatu Loi. Kedua kata itu, /fatu/ dan /hatu/ secara leksikal mengandung arti yang sama, yakni ‘batu’, dan /loi/ yang berarti ‘perahu’. Perbedaan fonem /f/ dan /h/ pada awal kata semata-mata perbedaan dialek. Yang pertama penamaan dengan menggunakan dialek Tugung untuk kata /fatu/, dan yang kedua penamaan dengan bahasa Iliung untuk kata /hatu/. Ada tendensi korespondensi fonemis (keteraturan bunyi) /f/ pada dialek Tungung berkorespondensi dengan /h/ pada bahasa Iliung. Misalnya, /fulan/ = /hulan/ ‘bulan’, /fafi/ = /hafi/ ‘babi’. Fakta ini juga memperkuat pengelompokan bahasa menurut Esser yang dimasukan dalam kelompok bahasa Ambon-Timor.

Kembali ke Fatu Loi; secara harafiah diartikan sebagai ‘perahu batu’, secara konseptual dimaknai sebagai ‘perahu yang telah membatu’. Jadi, Fatu Loi dan Hatu Loi adalah perahu yang telah membatu. Namun konteks lokasi yang berbeda, tentu historinya berbeda pula.

***

Beginilah legenda Fatu Loi yang disasar Kontarli dari mereka sebagai pemilik dan pewaris sejarah di Desa Arwala, Kecamatan Wetar Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya.

Alkisah dahulu kala hidup seorang Kapitan[4] bernama Kai Amang. Ia tinggal bersama pasukannya (bala) di wilayah yang dekat dengan Fafi Mate (kawasan itu berada di Desa Arwala). Kekesatriannya cukup tersohor kala itu. Sayangnya, ia belum berumah tangga karena aktivitasnya hanya berperang bila ada yang meminta bantuannya. Kehidupan kala itu mengisahkan hewan dapat berkomunikasi layaknya manusia bahkan hewan dapat berkomunikasi dengan manusia.

Dikisahkan suatu hari ada salah satu bawahan Kai Amang pergi untuk melihat bubu[5] yang dipasang mereka. Hari pertama diperiksa, bubu masih kosong. Hari kedua pun demikian. Pada hari ketiga, hanya ada seekor ikan jenis tir anang[6]. Pada saat ia hendak menusuk ikan yang terperangkap dalam bubu itu, namun terlihat ikan itu ingin menyampaikan sesuatu.

Tir Anang, (Acanthurus polyzona/Black-barred surgeonfish) jenis ikan yang disebutkan dalam legeda Fatu Loi. Sumber gambar: d-oceanaquarium

“Jangan bunuh aku”, seru tir anang dari dalam bubu.

“Aku membawa pesan dari wanita di seberang Wetar” lanjut ikan itu sambil memuntahkan sehelai rambut yang cukup panjang.

Rambut itu tidak lain ialah rambut seorang wanita.

“Sampaikan kepada Kai Amang untuk menjemput wanita pemilik rambut ini di seberang agar dijadikan sebagai isterinya” jelas ikan itu kepada salah satu bala Kai Amang.

Saat itu juga bala Kai Amang mengambil rambut yang menjadi pesan itu dan melepaskan kembali tir anang yang sengaja terperangkap dalam bubu Kai Amang.

Kembalilah bala Kai Amang itu ke kediaman mereka untuk menemui Kai Amang. Ia menyampaikan pesan sehelai rambut dan perkataan tir anang kepada Kai Amang. Kai Amang tampak bersenang hati. Kai Amang mulai berpikir mencari jalan pergi ke seberang sesuai pesan yang ia terima.

Suatu hari, Kai Amang mendatangi saudara perempuannya, Pi Pui. Ia meminta pohon kenari yang berukuran sangat besar dan juga lurus. Hanya ada satu pohon yang sesuai keinginan Kai Amang. Pohon itu adalah jenis pohon kenari yang dijadikan Pi Pui sebagai tempat berteduh kala panas. Ukuran pohon yang sangat besar dan lebatnya daun-daun pohon kenari itu, membuat Pi Pui menjadikan pohon kenari itu sebagai rumah kedua. Pohon itulah yang menjadi target Kai Amang.

Walaupun Kai Amang sebagai seorang Kesatria, ia sangat menghargai saudara perempuannya. Pada kali pertama, permintaan Kai Amang ditolak. Permintaan Kai Amang pada kali kedua pun demikian. Ia tak putus asa. Ia mencoba mendatangi saudara perempuannya kembali. Pada kali ketiga kedatangan Kai Amang meminta pohon kenari yang dimaksud, akhirnya dengan berat hati, Pi Pui menyetujui.

“Pohon ini sudah menjadi rumahku. Karena kau telah berkali-kali datang meminta rumahku agar dijadikan sebagai perahumu, maka ada persyaratan yang harus kau penuhi” izin Pi Pui kepada Kai Amang dengan syarat.

Sebagai seorang adik, Kai Amang tampak gembira.

“Persyaratannya apa kakak”, sambut Kai Amang dengan semangat.

“Kau harus menyanggupi mengumpulkan kembali semua ranting, daun, dan ampas dari kayu kenari ini ke tunggulnya setelah pembuatan perahu. Jangan ada yang tercecer di antara mereka.” Pi Pui menyarati Kai Amang.

Sebagai seorang kapitan dengan jumlah pengikutnya yang banyak, ia bersedia menyanggupi syarat itu.

Perahu pun mulai dibuat. Syarat yang diminta Pi Pui, saudara Kai Amang pun dengan mudah disanggupi.

Tiba saatnya Kai Amang bersama beberapa bala mencari sang pemiliki rambut. Mereka melayari pantai Wetar bagian utara. Mereka menyinggahi salah satu kampung. Dilihatlah para wanita di kampung tersebut, tak ada yang memiliki panjang rambut seperti rambut yang dibawakan si Ikan, tir anang. Mereka kembali berlayar dan singgah pada kampung kedua. Hasilnya sama, tak ada satupun wanita yang memiliki panjang rambut seperti yang dibawakan si Ikan, tir anang. Kembalilah mereka dan berlayar seperti biasa. Mereka menyinggahi kampung ketiga. Di situlah mereka menemukan sang wanita pemilik rambut. Wanita dengan nama Pi Tiga berparas cantik itu tidak mengelak ketika diperlihatkan dan diukurkan rambut pemberian tir anang dengan rambut miliknya. Pi Tiga pun mengakui bahwa rambut yang dibawakan si ikan adalah rambut miliknya. Tanpa membuang waktu, proses perkawinan pun dilangsungkan saat itu juga.

Beberapa hari kemudian, Kai Amang dan balanya sudah harus kembali ke Oung Wawai ‘Pelabuhan Besar’, sebutan kebesaran wilayah kekuasaan Kai Amang. Pi Tiga pun ikut dengan suaminya. Di suatu muara, Pi Tiga minta beristirahat sebentar karena ia ingin mandi di sungai. Er Tutuk Togor, begitulah nama sungai yang disinggahi Kai Amang, isteri dan bala Kai Amang.

Pi Tiga pergi ke hilir sungai. Aliran sungai yang awalnya bersih jernih perlahan mulai terlihat keruh dan kotor.

“Aneh, tidak ada hujan tapi airnya keruh”, pikir Pi Tiga dalam hati.

Ternyata sudah ada raksasa[7] perempuan yang mengincar Pi Tiga. Diam-diam, dalam beberapa saat raksasa bernama Pi Kulik itu membuat keruh pada hulu sungai. Pi Tiga pun memutuskan untuk menyusuri hilir sungai, mencari aliran air sungai yang masih bersih. Tak terpikirkan, Pi Tiga pun jauh dari penglihatan Kai Amang dan para bala. Pi Tiga mendapati aliran sungai yang jernih. Di situlah ia menceburkan badannya. Selang beberapa saat, Pi Kulik yang adalah raksasa wanita pembuat keruhnya air sungai mendatangi Pi Tiga. Ia datang dengan perawakan layaknya manusia biasa. Pi Kulik mengajak berkomunikasi dengan Pi Tiga. Keduanya terlibat dalam komunikasi ringan. Dengan sekejab, Pi Tiga merasa ada keakraban di antara mereka.

Pi Kulik menawarkan bantuan kepada Pi Tiga. Awalnya ia menawarkan bantuan mencuci rambut Pi Tiga yang terurai panjang. Perasaan akrab dengan tidak ada kecurigaan apapun, Pi Tiga menyetujui tawaran Pi Kulik sambil menyampaikan rasa terima kasihnya. Dengan suasana kesejukan alam, tiupan angin yang silir-semilir, nyanyian gesekan dedaunan dan siulan burung yang sahut-menyahut, secara perlahan membuat Pi Tiga mulai tertidur. Saat tertidur, Pi Kulik mulai melancarkan niat jahatnya. Rambut panjang Pi Tiga dililit pada akar-akar pohon. Pi Tiga dibuat seolah tak dapat bergerak karena rambutnya telah dililit ke mana-mana.

Merasa telah berhasil, Pi Kulik, sang raksasa betina itu pergi menemui Kai Amang dan bawahan Kai Amang yang sudah lama menunggu di perahu. Kamuflase pun terjadi. Sebelum menemui mereka, wajah, bentuk tubuh, dan perawakan Pi Kulik sudah diubah menyerupai Pi Tiga. Kai Amang tak menduga apapun yang sedang terjadi.

“Mengapa lama sekali?” Tanya Kai Amang sedikit kesal.

Dengan sedikit senyum, Pi Kulik mengatakan bahwa airnya keruh jadi ia harus mencari sedikit air bersih.

Pi Kulik pun dipersilakan naik ke perahu. Pada saat naik ketika ia duduk di buritan (bagian belakang), bagian buritan hampir tercelup. Begitu pula pada saat ia berpindah untuk duduk di haluan (bagian depan). Akhirnya, Kai Amang menyuruhnya agar tetap duduk di bagian tengah agar tetap ada keseimbangan perahu mereka. Kai Amang kehilangan naluri kapitannya. Ia benar-benar tak menduga apa yang sebenarnya terjadi.

Kai Amang dan balanya bersama Pi Kulik yang dianggap Kai Amang sebagai Pi Tiga meneruskan perjalanan mereka. Sementara Pi Tiga baru mulai terbangun dari tidurnya. Sayangnya ia tak dapat berbuat sesuatu karena kondisi rambut panjangnya yang terlilit ke mana-mana.

Di tepian seberang sungai, terlihat oleh Pi Tiga ada seekor bangau yang sedang mencari makan. Ia meminta bantuan dari bangau itu untuk melepaskan lilitan rambutnya dari akar-akar pohon. Bangau itu tak dapat menyanggupinya.

“Paruhku panjang. Aku takut, paruhku dapat memutuskan semua rambutmu” tanggap bangau memberi alasan atas permintaan Pi Tiga.

Pi Tiga sedih. ia menoleh ke kiri dan kanan. Matanya menangkap seekor ayam hutan sedang mencari makan. Ia memanggil ayam itu.

“Burung apa itu, kemari bantu aku. Rambutku sengaja dililit orang jahat ke akar-akar pohon saat aku tertidur” pinta Pi Tiga kepada ayam hutan dengan sedikit cerita.

Ayam hutan mendekatinya. Namun, si ayam tak menyanggupi.

“Aku tak bisa membantu melepaskan lilitan rambutmu. Kuku kakiku panjang. Jika kupaksakan, bisa merusak rambutmu yang panjang ini” jawab si ayam dengan memberi alasan.

Pi Tiga tak putus asa. Ia menegadah ke atas. Dilihatnya sekelompok burung cici padi terbang ke sana-ke mari. Ia memanggil kelompok burung itu sebagaimana ia memanggil bangau dan ayam hutan sebelumnya. Kelompok burung itu pun turun mengerumuni Pi Tiga. Tanpa perintah mereka mulai mematuki lilitan rambut itu dari akar-akar pohon. Tanpa pamrih, mereka bekerja bersama hingga rambut Pi Tiga terlepas dari lilitan tanpa ada seutas rambut yang tertelan. Pi Tiga menyampaikan ungkapan terima kasihnya.

“Pergilah kalian ke bagian barat Wetar. Di sana kalian akan menemukan bapak dan Ibuku yang sedang memanen padi. Ambillah sepetak padi dari ladang itu dan makanlah. Jika orang tuaku mengusir kalian, katakanlah kepada mereka bahwa kalian baru saja menolongku yang tersesat dalam perjalanan karena ulah orang jahat” pinta Pi Tiga kepada kelompok burung cici padi yang telah menolongnya.

Sekelompok burung itu pun pergi dan mengikuti apa yang diperintahkan. Seperti yang sudah diketahui, pada saat mereka memakan padi-padi di ladang orang tua Pi Tiga, datanglah orang-orang yang menjaga ladang untuk mengusir sekelompok burung cici padi. Tak langsung terbang menghindar, burung-burung itu menyampaikan pesan Pi Tiga kepada orang tuanya. Mereka pun dibiarkan memakan sepetak padi di ladang hingga habis.

Pi Tiga harus berjalan kembali ke hilir, berharap masih bisa bertemu suaminya, Kai Amang. Nahas, ia hanya mendapati bekas kaki mereka di pasir.

Ia melihat ke bebatuan sekitar pesisir pantai, ada seekor ikan tir anang. Ia pun meminta bantuan dari ikan itu.

“Ikan apakah kau itu, mohon bantu aku. Bawakan daku ke Oung Wawai.” Pinta Pi Tiga.

“Aku tak sanggup membawakanmu. Tubuhku sangatlah kecil. Mintalah bantuan dari ikan yang lain” jawab si ikan dengan memberikan alasan penolakan.

Pi Tiga melihat ke laut, seekor ikan hiu putih sedang bergerak pelan melewatinya. Ia memanggil ikan itu dari kejauhan sebagaimana ia memanggil tir anang. Sang hiu merapat ke pesisir pantai mendekati Pi Tiga. Ia menolak dengan halus permintaan Pi Tiga.

“Kulitku sangat kasar. Aku tak mau membuat kulitmu lecet karena kulitku.” kata sang hiu memberi alasan.

Pi Tiga tampak kesal karena secara ukuran, hiu didekatnya sudah mampu membawanya ke tempat yang ia tuju.

“Jika kau tak percaya, lemparkanlah salah satu kayu kepadaku dan lihatlah apa yang akan terjadi” lanjut sang Hiu untuk meyakinkan Pi Tiga.

Pi Tiga menuruti permintaan sang Hiu. Ia melemparkan sepotong kayu ke arah hiu. Kayu itu terkelupas dan terpatah ketika menyentuh kulit sang hiu. Mata Pi Tiga terbelalak melihat kejadian itu. Ia terenyuh.

“Mintalah bantuan dari ikan yang lain” saran Hiu kepada Pi Tiga sambil bergerak ke laut yang agak dalam.

Pi Tiga mengikuti arahan Hiu dan ikan tir anang. Ia terus menunggu di pesisir pantai. Sesekali ia membuang pandangan jauh ke arah laut. Matanya tak bergerak saat melihat ada semacam serumpun tebu hutan yang bertumbuh di laut perlahan bergerak mendekatinya. Pi Tiga memanggil. “Ikan apakah kau itu, mohon bantu aku. Bawakan daku ke oung wawai.”

Benda yang banyak ditumbuhi tebu hutan itu ternyata adalah seekor buaya. Namanya Golumau. Buaya ini menjawab bahwa sangat kebetulan karena ia juga akan pergi ke Oung Wawai. Golumau pun menawarkan bantuan kepada Pi Tiga.

“Naiklah ke punggungku. Jika kau merasa panas, sentuhlah mataku agar aku membawamu sedikit menyelam ke dasar laut; sebaliknya jika kau merasa dingin sentuhlah mataku agar aku dapat menaikanmu di atas permukaan air” jelas Golumau kepada Pi Tiga.

Pi Tiga menuruti perkataan Golumau. Kemudian Golumau pun mengantarkan Pi Tiga ke Oung Wawai. Di tengah perjalanan, mereka melewati Kai Amang dan bawahannya.

Dari perahu Kai Amang, ketika mereka melihat Pi Tiga dan Golumau lewat, seorang bala mengatakan kepada Kai Amang bahwa seekor burung yang hinggap di atas kayu apung di laut, mirip dengan Pi Tiga. Kai Amang menyela. “Jangan bicara sembarangan. Di laut itu hanya burung bangau. Bibi kalian yang sementara duduk bersama kita di dalam perahu ini” ketus Kai Amang kepada balanya.

Golumau terus mengantarkan Pi Tiga. Tibalah mereka di salah satu muara di Oung Wawai, Kai Ter. Mereka masuk melalui muara itu. Mereka masuk secara perlahan karena kondisi kali yang sempit. Golumau dengan setia terus mengantarkan Pi Tiga hingga ke tempat yang sering digunakan Kai Amang mencari siri. Tamemang. Di situlah Golumau melepaskan Pi Tiga.

Sebagai imbalan kepada Golumau, Pi Tiga hanya berpesan kepada sang buaya yang sudah membantunya.

“Pergilah ke sebelah barat, ambillah salah seekor babi yang ada di kandang. Babi itu milik orang tuaku. Pada saat kau mengambilnya dan ada yang datang hendak membunuhmu, katakanlah kepada mereka bahwa kau diminta olehku untuk mengambil babi itu. Kau sudah menyelamatkanku, kau berhak mendapatkan imbalan dariku” jelas Pi Tiga kepada sang buaya yang sudah penuh dengan tumbuhan di belakangnya.

Golumau mengikuti permintaan Pi Tiga. Sang buaya itu kemudian membalik badannya. Tempat sempit di Tamemang itu tiba-tiba menjadi luas karena berputarnya sang buaya berbalik arah menuju muara.

Pi Tiga kemudian memanjat sebatang pohon tua yang condong, tempat bertumbuhnya pohon siri milik Kai Amang. Sementara Golumau sudah pergi ke tempat yang diarahkan Pi Tiga. Dan benar terjadi seperti apa yang disampaikan Pi Tiga. Setelah memakan seekor babi dari Kandang, buaya itu kembali ke muara Kai Ter dan menetap di situ.

Di suatu senja, datanglah Pi Pui hendak mengambil air di Tamemang. Ia berada tepat di bawah pohon yang dinaiki Pi Tiga. Saat itu, Pi Tiga sedang memamah buah sirih. Sesekali, Pi Tiga membuang ludah merahnya ke bawah. Tanpa sengaja ludah itu mengenai Pi Pui yang sedang berada di bawah pohon itu.

“Burung apakah ini. Tahinya berwarna merah” tanya Pi Pui berbicara sendiri sambil melihat percikan ludah merah yang mengenai lengannya. Sesekali Pi Pui juga menengadah ke atas pohon di dekatnya. Ia tak melihat apa-apa di atas pohon.

Selang beberapa waktu kemudian, Pi Tiga kembali memercik ludah merah hasil mamahannya. Dan itu merupakan kali kedua ludah merah itu mengenai badannya Pi Pui. Pi Pui kembali bertanya dalam hatinya. “Tahi burung apakah ini? Warnanya sangat merah”. Saat itu, Pi Pui ingin memastikan rasa penasarannya. Saat ia mengamat-amati ke atas, tiba-tiba ludah merah Pi Tiga kembali mengenai lengannya Pi Pui. Pi Pui memutuskan untuk menaiki pohon condong yang dinaiki Pi Tiga. Sesampainya di atas, ia bertemu dengan Pi Tiga. “Waktu yang tak ditentukan, Hari yang tak diatur, hari ini saya menemui seorang wanita cantik yang bisa menjadi isteri adik saya, Kai Amang”.

Mendengar nama Kai Amang disebut, Pi Tiga terdiam. Pi Pui mengajak Pi Tiga ke rumahnya. Pi Tiga pun menurut. Sesampainya di rumah, Pi Pui menaikan Pi Tiga ke loteng. Ia duduk di sana.

Tak berselang waktu yang lama, Kai Amang pun datang. Ia duduk tepat di bawah Pi Tiga berada. Kai Amang kemudian menceritakan sikap isterinya yang aneh. Mulai dari saat mereka berada di Er Tutuk Togor hingga mereka tiba di Fafi Mate, tempat kediaman Kai Amang. Mereka kehabisan piring makan. Setiap kali isterinya makan, selalu saja piring makannya hilang.

Mendengar cerita Kai Amang, Pi Tiga sedih. Ia sedih karena Kai Amang sudah beristeri. Ia sedih karena perjuangannya tiba di Oung Wawai hanya untuk suami orang. Ia merasa sedih karena Kai Amang yang adalah seorang Kapitan dapat diperdayai oleh seorang wanita jahat. Tak terasa ia menetaskan air mata. Tetesan air mata itu mengenai Kai Amang.

“Kakak, coba perhatikan dudukan air di loteng. Sepertinya miring. Ada tetesan air yang mengenaiku” ujar Kai Amang kepada Pi Pui sambil mengusap air yang mengenai dahinya.

“Pergi dan lihat sendiri” jawab Pi Pui singkat.

Tak lama kemudian, tetesan air mata Pi Tiga kembali mengenai Kai Amang. Kali ini, Kai Amang menengadah ke atas.

“Kakak, coba lihat dulu. Nanti airmu habis kalau-kalau tempat airmu bocor” pinta Kai Amang dengan nada sedikit mendesak.

“Sudah kubilang, pergi dan lihat sendiri” balas Pi Pui sedikit tegas.

Belum selesai Pi Pui berbicara, “Tik”. Setetes air mata kembali mengenai dahi Kai Amang saat ia sedang menegadah ke atas. Tetesan ketiga itu membuat Kai Amang harus memeriksa sendiri apa yang sedang terjadi dengan tempat penyimpanan air Pi Pui di loteng.

Saat Kai Amang membuka pintu loteng, matanya terbelalak melihat Pi Tiga. Ia terkesimah karena ada wanita yang mirip dengan wajah isterinya yang tak lain adalah Pi Kulik. Wanita itu sedang duduk berlinang air mata.

“Waktu yang tak ditentukan, Hari yang tak diatur, hari ini saya menemui seorang wanita cantik yang mirip dengan wanita yang kubawa dari seberang.” Seru Kai Amang dari balik tangga. “Turunlah kemari dan perlihatkanlah dirimu kepada semua orang di sini” pinta Kai Amang.

Pi Tiga menuruti permintaan Kai Amang. Ia turun dari loteng. Pi Tiga kemudian menceritakan kejadian yang ia alami kepada Kai Amang dan kakaknya, Pi Pui. “Wanita yang kau bawakan dari Er Tutuk Togor itu bukan isterimu” cerita Pi Tiga kepada Kai Amang. Sambil menatap wajah Kai Amang, Pi Tiga berkata bahwa Kai Amang diperdayai oleh wanita yang telah melilit rambutnya ke akar-akar pohon. Kai Amang menjadi geram. Ia marah ketika mendengar cerita Pi Tiga. Kondisi itu tak serta-merta membuat Kai Amang mengambil keputusan.

Kai Amang dalam kondisi bingung. Mana yang harus ia percayai. Mempercayai wanita yang ia bawa dari Er Tutuk Togor atau wanita yang baru saja ia temui di loteng rumah kakaknya. Ia kemudian putuskan agar antara Pi Tiga yang baru ia temui dan Pi Kulik yang dianggap sebagai Pi Tiga itu mengambil sumpah siapa yang benar-benar manusia asli yang dijemput Kai Amang dari seberang Wetar.

Pi Kulik dipanggil dan bertemu dengan Pi Tiga. Bala Kai Amang ikut mengantarkan Pi Kulik ke rumah Pi Pui. Pi Kulik marah kepada Pi Tiga.

“Kamu ingin merampas Kai Amang dariku” kata Pi Kulik kepada Pi Tiga dengan nada penuh amarah. “Kamu sengaja menyerupaiku agar bisa bersama Kai Amang” lanjut Pi Kulik.

“Kita langsung pada sumpah saja. Silakan ambil pedangmu dan kita bersumpah demi kebenaran” sela Pi Tiga.

Pi Kulik yang dekat dengan Kai Amang langsung mengambil pedangnya Kai Amang. Ia juga mengambil ima fufung[8] untuk melindungi bagian kepalanya. Sementara Pi Tiga mengambil ainaneri[9] milik Pi Pui. Ainaneri itu dijadikan sebagai pedang oleh Pi Tiga. Ia juga mengambil nyiru untuk melindungi bagian kepalanya.

Mereka pun memulai ritual pengambilan sumpah. Setelah itu mereka saling memberi kesempatan, mana yang lebih dulu menebaskan pedangnya. Pi Tiga meminta Pi Kulik lebih dulu menebaskan pedangnya. Pi Kulik pun demikian, meminta kepada Pi Tiga untuk menebaskan ainanerinya ke kepala Pi Kulik. Lama beradu siapa yang harus memulai lebih dulu, akhirnya Pi Kulik mengambil kesempatan pertama. Ia mengacungkan pedangnya ke atas sambil menyatakan sumpahnya, dan dengan kencang ia menebaskan pedangnya ke arah kepala Pi Tiga. Secepat kilat, nyiru di atas kepala Pi Tiga terangkat dan menghempaskan pedang Pi Kulik hingga terlepas dari tangannya. Semua orang yang hadir di situ termasuk Kai Amang dan Pi Pui terbelalak mata mereka.

Ura[10], Ini giliranku” seru Pi Tiga kepada Pi Kulik.

Pi Tiga kemudian secara perlahan mengangkat ainanerinya ke atas sambil berkata “Jika akulah Pi Tiga yang asli, ainaneri ini akan menghancurkan ura dari kepala hingga bawah”. Akhirnya, terjadi seperti yang dikatakan. Ketika ainaneri itu dilepaskan ke arah kepala Pi Kulik, ima fufung itu terbelah dua. Kepala Pi Kulik juga ikut terbelah hingga perut. Bunyi pecah piring di perut Pi Kulik pun ikut terdengar. Ketika itu, Kai Amang pun menyerukan kepada para bala yang turut menyaksikan.

“Lihatlah, selama ini kita makan dan selalu kehilangan piring. Ternyata piring-piring yang biasa dipakai semua sudah ditelan manusia ini” sambil menujuk ke arah Pi Kulik yang terbelah dan mulai merebah ke tanah.

Setelah kejadian itu, Kai Amang kemudian membawa Pi Tiga ke kediaman mereka. Pi Pui pun ikut gembira karena Kai Amang sudah mendapatkan isterinya. Akhirnya, Pi Pui tidak lagi tinggal menyendiri. Ia ikut menemani Pi Tiga kala Kai Amang keluar berperang.

Beberapa musim berlalu, Kai Amang selalu sibuk dengan kegiatan perangnya. Pi Tiga merasa kesepian. Mereka belum memiliki keturunan. Pi Pui pun demikian. Saudaranya yang terus-menerus berperang membuat keluarga itu disegani. Pi Pui dan Pi Tiga terus tinggal menyendiri.

Di suatu senja, pada saat Kai Amang dan bawahannya pergi perang, ada seekor burung balam terbang melintasi atas rumah dan jatuh di halaman mereka. Burung balam itu ternyata terkena sumpitan seorang lelaki muda bernama Simun Rein. Pada saat burung balam itu jatuh tergeletak di halaman mereka, dengan cepat-cepat Pi Tiga dan Pi Pui menangkap burung itu dan menyimpannya ke dalam rumah. Anak sumpit yang masih tertancap pada dada burung balam itu juga dicabut dan disimpan rapat-rapat. Tak lama kemudian, datanglah pemuda pemburu balam.

“Bibi, apakah kalian melihat seekor burung balam yang terbang dengan anakan sumpit melewati sini? Aku ingin mendapatkan kembali anak sumpit saya” tanya Simun Rein saat menemui Pi Tiga dan Pi Pui.

Melihat wajah Simun Rein, kedua wanita itu begitu kaget. Wajah pemuda tampan itu membuat mereka terpanah. Pi Tiga dan Pi Pui memang baru pertama kali melihat Simun Rein. Selain mereka berdua, tidak ada seorang pun yang tahu kalau Simun Rein tinggal seorang diri bersama neneknya.

Simon Rein memang seorang pemuda asing di wilayah itu. Semasa ia lahir, kelahirannya terjadi secara ajaib. Ia berubah dari sebuah semangka menjadi seorang bayi laki-laki. Ia dirawat seorang nenek yang hidup menyendiri. Mereka hidup jauh dari perkampungan. Tak heran, Pi Tiga dan Pi Pui juga merasa asing dengannya. Tapi karena ketampanannya, Pi Tiga dan Pi Pui sama-sama merasa jatuh cinta kepada Simon Rein pada pandangan pertama.

Dengan senyum menggoda, Pi Tiga menjawab pertanyaan Simun Rein. “Kami tidak melihat burung yang kau tanyakan”.

“Iya. Tidak ada burung yang terbang melewati sini” tambah Pi Pui meyakinkan.

Simun Rein tidak mempercayai mereka. Ia sangat yakin, burung itu jatuh di halaman mereka karena ia melihat burung balam yang ia sumpit terbang dan jatuh di halaman rumah Kai Amang.

Dalam hati Simun Rein pun berkecamuk takut. Ia mengingat pesan neneknya bahwa di wilayah Fafi Mate ada dua wanita yang merupakan orang terdekat Kai Amang. Dan Kai Amang adalah orang yang disegani dan ditakuti. Kai Amang tak dapat diajak kompromi jika privasinya dimasuki orang asing.

Simun Rein ingin memastikan hubungan kedua wanita itu dengan Kai Amang. “Apakah bibi berdua ini saudaranya paman Kai Amang?” tanya Simun Rein dengan sedikit membungkuk.

Seolah sudah tahu maksud dari Simun Rein, pertanyaan itu langsung dijawab Pi Pui. “Iya, tapi saat ini pamanmu tak ada di sini”.

“Pamanmu sedang pergi jauh” tambah Pi Tiga.

Tanpa berpikir panjang lagi, Simun Rein melanjutkan pembicaraan untuk menyudahi percakapan mereka.

“Baiklah. Karena kedua bibi tidak melihat anak sumpit saya, saya harus kembali karena nenek saya sudah menunggu saya di rumah.” ujar Simun Rein sambil berjalan mundur.

Karena takut dan hormatnya Simun Rein kepada Kai Amang, ia tidak ingin berlama-lama di kediaman Pi Tiga dan Pi Pui. Mentari yang sudah memerah dari balik pegunungan membuat Simun Rein harus cepat pulang. Ia pun berbalik hendak pulang. Pi Tiga bergerak cepat menarik tangan Simun Rein. Begitu pula dengan Pi Pui, ia juga ikut menarik tangan Simun Rein dari sebelahnya.

“Kau jangan pergi dulu. Burung dan anak sumpitmu sudah kami simpan di dalam rumah” kata Pi Tiga sambil terus menarik tangan Simun Rein.

“Kalau begitu, tolong ambilkan saja anak sumpitku karena aku sudah harus pulang” balas Simun Rein.

“Tidak. Kau bisa mengambil anak sumpitmu dengan satu syarat” seru Pi Pui singkat.

Simun Rein terdiam sesaat. Anak sumpit itu adalah satu-satunya yang terbaik, karena setiap bidikan tak pernah meleset. Ia kemudian bertanya syarat yang diminta. “Apa syaratnya”.

“Kau harus tidur malam ini dengan kami.” pinta Pi Pui.

Seketika Simun Rein terkejut. Kali ini Simun Rein benar-benar terpaku. Ia tak menjawab atau mengaku. Ia tak bergerak sama sekali seperti terkena sambaran petir di petang sepi. Permintaan itu membuat Simun Rein teranestesi. Wajahnya pucat pasi. Ya, semacam sudah mati.

Pi Tiga dan Pi Pui langsung menggopoh dan membawa Simun Rein ke dalam rumah dan membaringkannya di tempat tidur. Simun Rein diliputi perasaan takut dan bersalah dengan orang yang ia segani, Kai Amang.

Malam makin larut. Simun Rein diapit rapat oleh Pi Tiga dan Pi Pui. Simun Rein tetap diam tak bergerak. Dalam hati ia memutuskan untuk segera pulang. Perlahan-lahan ia bergerak bangun. Pi Tiga dan Pi Pui tak lagi sadarkan diri. Segera Simun Rein mengambil bambu sembilang[11] yang ada di halaman rumah. Diukurkan bambu itu setinggi dengan tinggi badannya, kemudian diletakanlah bambu itu di antara Pi Tiga dan Pi Pui. Simun Rein segera mengambil anak sumpitnya dan malam itu juga langsung ia balik ke rumah neneknya.

Keesokan harinya, tersadarlah Pi Tiga dan Pi Pui. Mereka terpukul ketika menyadari bahwa mereka sedang memeluk sebatang bambu. Ibarat membawa separuh nafas dari raga kedua wanita itu, mereka seperti hilang harapan hidup. Mereka mulai menangis. Histeris. Tangisan mereka menjadi-jadi. Bagai guntur memecah kesunyian. Keduanya menangis sambil membanting diri ke lantai. Hingga akhirnya keduanya tewas secara bersamaan.

Sekembalinya Kai Amang dari medan perang, ia begitu terkejut melihat isteri dan kakaknya sudah meregang nyawa. Keduanya tewas sambil memeluk sebatang bambu yang diletakan oleh Simun Rein. Wajahnya memerah, Kai Amang mulai marah. Ia perintahkan balanya untuk menguburkan isteri dan kakaknya itu. Sebagian lagi ia perintahkan untuk membawa bambu pengukur yang dipeluk oleh isteri dan kakak perempuannya agar diukurkan kepada semua orang kampung. Dari rumah ke rumah mereka ukurkan, tidak ada satupun orang yang memiliki tinggi badan seperti bambu yang ditinggalkan Simun Rein. Mereka kembali melaporkan tugas mereka kepada Kai Amang.

Kai Amang meraih tombak dan pedangnya. Ia perintahkan beberapa orang pengkikutnya untuk membawa tipa dan elangnya ke goa kecil di pesisir pantai Fafi Mate. Selanjutnya mereka pergi bersama Kai Amang. Ia seperti sudah memiliki firasat keberadaan orang yang menaruh bambu pengukur itu. Ia mendatangi rumah dari nenek yang telah membesarkan Simon Rein. Pada saat mendekati rumah, Simun Rein keluar di halaman rumah. Betapa terkejutnya Simun Rein dan pengikutnya karena mereka tak pernah tahu kalau ada seorang pemuda nan gagah perkasa tinggal di rumah seorang nenek yang sudah tua.

Melihat kedatangan Kai Amang dan pengikutnya sambil menenteng bambu yang ditinggalkan Simun Rein, ia menyerukan kepada Kai Amang bahwa bambu itu yang ia letakan di tengah-tengah Pi Tiga dan Pi Pui.

Mendengar kejujuran Simun Rein, Kai Amang begitu marah. Ia menyerukan kepada Simun Rein untuk segera mengambil peralatan perangnya agar masalah mereka diselesaikan secara kesatria.

“Paman Kai Amang. Mohon dengarkan penjelasanku. Memang benar akulah yang meletakan bambu itu di antara kedua bibiku. Atas permintaan kedua bibiku di Fafi Mate, aku ditahan untuk tidur dengan mereka. Tapi perlu diketahui bahwa sehelai benang pun tak lepas dari tubuh kedua bibiku.” terang Simun Rein memberi penjelasan.

“Aku tidak mengenalmu dan aku tidak mempercayaimu. Ambilkan pedangmu dan kita berperang demi kebenaran” tegas Kai Amang.

“Paman Kai Amang, tolong dengarkan aku” mohon Simun Rein.

“Cukup!” seru Kai Amang. “Jika kau benar tidak membunuh mereka, tombakku ini akan meleset. Jika sebaliknya, maka tombakku ini akan mengenai dadamu dan menembus jantungmu” lanjut Kai Amang dengan bersumpah. Simun Rein pun demikian menyatakan sumpahnya.

Kai Amang menarik tombak pusakanya, kemudian dengan keras ia lemparkan ke arah Simun Rein. Tanpa menghindar tombak itu berbelok arah tak mengenai sasaran. Simun Rein berteriak dengan keras. “Paman, ini giliranku!.” Seru Simun Rein.

Pada saat Simun Rein berteriak, langitpun bergema. Ribuan anak panah turun dari langit menghantam dada Kai Amang dan balanya hingga tewas. Tak ada satupun dari mereka yang selamat.

Raga Kai Amang dan pengikutnya tak terkubur. Perahu Kai Amang juga tak terurus, tinggal terapung di Fafi Mate. Hingga kini, perahu itu menjadi batu.

***

Begitulah legenda Fatu Loi. Karena pemiliknya sudah meninggal dan tak ada lagi yang merawat, semua peninggalan Kai Amang telah menjadi batu. Perahunya menjadi batu. Begitu pula seekor burung elang dan tipa (sej. Alat musik) yang diletakan begitu saja dalam lubang tanjung, ikut menjadi batu. Ketiga benda ini masih terdapat pada area yang sama, Fafi Mate. Makam Pi Tiga dan Pi Pui masih dijumpai di area Fafi Mate, sementara makam Kai Amang tidak dijumpai karena tak ada yang memakamkannya.

Bagian tunggul pohon kenari yang menjadi bahan baku perahu Kai Amang pun telah membatu. Kawasan pohon kenari itu disebut Fatu Loi Tur ‘tunggul kayu Fatu Loi’. Serpihan-serpihan dari pohon kenari itu menjadi telaga kecil yang mengitari Fatu loi tur. (FFM)

Nara Sumber:

  1. Julius Maunareng (tokoh adat)
  2. Albinus Lairese (tokoh adat)
  3. Oktovianus Mauauth (tokoh adat)
  4. Silas Mauauth (tokoh masyarakat)

[1] Data Kementerian Kelautan dan Perikanan

[2] Data BPS 2010

[3] Data Badan Bahasa 20018.

[4] Kepala dalam bala tentara

[5] Alat penangkap ikan yang terbuat dari saga atau bambu yang dianyam, dipasang dalam air (ikan dapat masuk, tetapi tidak dapat keluar lagi)

[6] Nama ikan dalam dialek Tugung; sejenis ikan Acanthurus polyzona (Black-barred surgeonfish) atau Acanthurus-triostegus (Convict surgeonfish).

[7] Bangsa makhluk yang menyerupai manusia atau hewan

[8] Kulit kima yang merupakan sejenis kerang besar yang banyak ditemukan di wilayah perairan Asia Tenggara dengan besar ukuran bervariatif mencapai 1,5 meter.

[9] Alat yang berfungsi merapatkan dan memperkuat benang dalam tradisi pembuatan tenun ikat. Dalam beberapa bahasa yang mengenal tradisi tenun ikat ini disebut dengan panette, barera, dan lain-lain.

[10] Ipar, panggilan kepada seseorang yang menikah dengan saudara si pemanggil atau juga kepada orang baru yang dikenal baik.

[11] Sejenis bambu terbesar dari semua jenis bambu lainnya

 

Incoming search terms:

Silakan ikuti kami melalui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Jika informasi ini bermanfaat, silakan dibagikan

Chat dengan kami?